Bahasa Indonesia
yang masih kolot lantas melahirkan penutur atau penulis yang memakai bahasa
gado-gado. Dalam sebuah kalimat, umpamanya, tertera rupa-rupa istilah asing.
Idiom tersebut sesungguhnya bukan sekedar gagah-gagahan. Selain aksentuasi,
juga membantu agar orang lebih paham.
Bahasa menunjukkan
bangsa. Petuah itu seolah mengilustrasikan masyarakat Indonesia. Dewasa ini,
tabiat bangsa Indonesia suka melanggar hukum. Sebagai tamsil, di suatu ruangan
tertera kalimat: Dilarang Merokok. Biarpun ada larangan, namun, yang merokok
tetap berjubel. Bahkan, sempat-sempatnya ia bertanya: Boleh Merokok di
sini?
Rasanya, bukan orang Indonesia jika tidak senang melanggar. Selain manusianya,
juga bahasa Indonesia doyan menafikan kaidah. Di zaman Orde Baru, bahasa
dipakai buat mengintimidasi. Kelompok yang tidak sejalan dengan Orde Baru
diteriaki dengan jargon-jargon menakutkan. Ada orang, misalnya, menjalani
litsus (penelitian khusus) gara-gara dituduh anggota OTB (organisasi tanpa
bentuk).
Bahasa
Melayu yang dibaptis sebagai bahasa Indonesia dianggap perekat bangsa. Pada
1920-an, alat komunikasi ala Melayu telah akrab dalam pergaulan serta perda-gangan.
Hatta, beberapa pemuda mencetuskan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan pada
28 Oktober 1928.
 |
| (Foto : Google) |
Tidak GaulBahasa Jakarta sudah merasuk ke anak-anak maupun remaja. Warga ibu kota
patut berbangga sekaligus menghaturkan terima kasih kepada televisi swasta.
Sebab, lewat sinetron, maka, bahasa Jakarta menggerayangi anak muda.
Bahasa
Indonesia yang masih kolot lantas melahirkan penutur atau penulis yang memakai
bahasa gado-gado. Dalam sebuah kalimat, umpamanya, tertera rupa-rupa istilah
asing. Idiom tersebut sesungguhnya bukan sekedar gagah-gagahan. Selain
aksentuasi, juga membantu agar orang lebih paham.
Ada yang mengartikan menggertak, memeras atau menyakiti secara fisik. Jika tak
ada padanannya, niscaya orang akan memanfaatkan istilah asing. Hingga, bahasa
Indonesia tidak ubahnya sepotong ular, sepotong belut.
Istilah asing memang tak buruk. Apalagi, kalau sekedar bercanda antarsesama
makhluk wicara. Orang kadang bertanya, apa bahasa Mandarinnya
robek. Jawabnya:
compang-camping. Terus bahasa Tiongkoknya
setengah mati tentu
sam pek
ping san.
Akronim yang pernah
disematkan ke orang yang berbeda pendapat dengan penguasa ialah cekal (cegah
dan tangkal). Dengan begitu, orang yang bersangkutan repot berekspresi lantaran
tidak diperkenankan masuk atau keluar dari wilayah Indonesia.
Sistem pemerintahan
totaliter Soeharto memang gemar memunculkan banyak akronim. Elemen tersebut
dilakukan sebagai siasat dalam menistakan lawan-lawan politik. Di sisi lain,
akronim banyak diproduksi buat mengaburkan makna suatu konsep. Hingga, daya
kritis masyarakat mengalami status koma.
Orde Baru pun
melarang kritik. Boleh mengeritik asal kritik membangun. Padahal, di mana-mana
tidak ada kritik membangun. Kritik selalu mengusik perasaan. Kritik membangun
artinya dilarang mencela apa saja yang dikerjakan oleh Orde Baru. Syukurlah,
kini bahaya laten Orde Baru sudah tereliminasi sejak Mei 1998.
Dialek Betawi
Di masa sekarang
ada dorongan agar bahasa Indonesia dimutakhirkan. Alhasil, masyarakat efektif
menyerap hasil teknologi. Di sisi lain, kecenderungan yang menimpa bahasa
nasional yakni modernisasi dengan meninggalkan nilai, kaidah dan aturan.
Bahasa Indonesia
yang diperjuangkan para pemuda pada 1928, kini mengalami erosi. Bahasa nasional
rupanya tak tahan terhadap perubahan. Akibatnya, bahasa Indonesia bersalin rupa
secara vulgar seiring kehadiran televisi swasta.
Perkara senada
pernah menimpa Negeri Tirai Bambu. Satu dasawarsa silam di Hongkong, anak-anak
muda dibanjiri bahasa Inggris. Kalau sesama remaja bersua, maka, mereka saling
mengingatkan supaya kao. Istilah itu maksudnya call alias menelepon. Di
kalangan ABG (anak baru gede) Tiongkok, berderak istilah Hongkong
ku. Ku dicopot dari
cool yang
artinya hebat, keren atau bagus.
Sekarang bahasa
Indonesia bersolek seronok tak karuan. Semua lantaran sinetron.
Pemain-pemain sinetron yang notabene dibesarkan di Jakarta ikut memasarkan
dialek Betawi (Jakarta). Kini, masyarakat sudah akrab mendengar kalimat-kalimat
yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Frasa yang biasa terdengar
antara lain:
I love banget,
gue kan udah bilang,
wow,
keren
abezz. Kemudian:
gapapa deh
maupun
udah waktunya jadi pinter. Ada
lagi seperti:
lu kok gitu sih,
ngobrol kok ribet atau
pede aja lagi!. Remaja yang bersumpah
malahan bergumam:
swear deh atau
sumpeh lo.
Sebuah SMA di
Makassar mengedarkan kupon bazar. Kalimatnya berbunyi:
mo ngadain bazaart ampe pagi.
So
pasti kamu ma temen-temen kamu happy.
So langsung tancap gas aja dech!
Dari pada bete.
Untaian kalimat ala
sinetron tersebut, mungkin dicap bernuasa gaul kendati belepotan. Arkian,
bahasa sinetron yang mewakili kawula muda bisa dipastikan turut memudarkan
derajat bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Apalagi, bahasa sinetron telah
menjalar ke mana-mana.
Pada 1997, sebuah
lomba cerita pendek diadakan untuk siswa SMA. Di luar dugaan, ternyata hampir
80 persen menggunakan bahasa Jakarta. Padahal, peserta diikuti dari
seluruh wilayah di Indonesia.
Bila sepuluh tahun
silam angka pemakaian bahasa Jakarta mencapai 80 persen, berarti dapat
dibayangkan suasana sekarang. Buku-buku teenlit atau sastra jerawat yang doyan
dibaca remaja bisa dipastikan memakai bahasa Jakarta. Rasanya bahasa Jakarta
itulah bahasa Indonesia yang menjadi media interaksi antarmanusia.
Jerih-payah guru di
sekolah bagai tak berbekas. Sinetron lebih lihai mengajarkan bahasa
dibandingkan guru di kelas. Gemuruh-riuh bahasa sinetron diduga akibat bahasa
Indonesia dinilai kaku, kuno serta tidak gaul. Bahasa Indonesia kurang klop
digunakan di sinetron. Pasalnya, bahasa nasional tidak filmis. Di samping itu,
bahasa Indonesia tergolong miskin.
Jumlah istilah
bahasa Indonesia belum layak dibanggakan. Di sisi lain, kalimat-kalimat di
media cetak sering panjang bak rel kereta api. Bahasa Indonesia secara intra
dan ekstra sistemik belum cukup kuat.
Goyahnya pemakaian
bahasa Indonesia muskil dipungkiri. Karena, banyak orang berpendidikan ikut
mempengaruhi pemakaian bahasa Indonesia. Mereka yang pernah belajar di luar
negeri lebih percaya diri berbahasa Inggris. Dengan demikian, tanpa disadari
bahasa nasional luntur di hati warga Nusantara. Tidak mustahil bahasa Indonesia
bakal wassalam dari bumi Pertiwi lantaran bahasa Inggris, sinetron serta
Facebook.
Jang Anang
Sebagai contoh,
istilah komputer seperti
mouse. Alat
yang dinamakan
mouse tidak ditemukan
terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Memang acap dipakai istilah tetikus,
namun, kurang afdal serta tak populer. Lalu istilah
bullying, juga tidak ada.
Bullying
yang asal katanya dari bull (sapi jantan), diterjemahkan sesuai konteks.
Apa yang dikatakan
masyarakat Sulawesi Selatan bila mengucapkan "
jam enam makan malam". Jawabnya: "
jang anang makang malang".
Nasinya dengan apa, daeng?
Dengang ikang.***
Oleh Adrian Jourdan Muslim Pemerhati Masalah Bahasa
0 komentar:
Posting Komentar